Senin, 17 Oktober 2011

PERAN MAHASISWA DI KAMPUS

PERAN MAHASISWA DI KAMPUS
Perjalan Panjang Yang Belum Jua Usai
                                                                       
Secara etimologi antropologi berasal dari bahasa yunani yang terdiri dari dua kata :
Antrophos       : Manusia; apayang dihasilkan manusia; budaya.
Logos               : Ilmu
Secara terminologi antropologi adalah ilmu yang mempelajari tentang manusia dan kehidupannya.
Kampus          : Suatu wadah yang merupakan jenjang paling tinggi untuk menampung      
                          menampung orang-orang belajar.  
Jadi berbicara antropologi kampus berbicara tentang budaya di dalam kampus dan seperti         apa mahasiswa melawan kebijakan yang akan di terapkan oleh birokrasi kampus.
Di kampus terdapat beberapa pemimpan diantaranya :
  • Rektor
  • Pembantu rektor I,II,III dan IV
  • Dekan-Dekan
  • Dan masih ada dosen di setiap fakultas
  • Dan ada beberapa organisasi kampus yang semua itu di kuasai oleh rektorat yaitu ukm, hmj dan senat fakultas.

Pada tahun 1978 masa orde baru mahasiswa merasa masih bisa bersama-sama di tengah-tengah masyarakt karena mahasiswa pada tahun 78 merupakan mahasiswa yang kritis akan adanya suatu kebijakan yang di keluarkan oleh para penguasa baik di dalam kampus maupun di luar kampus.
Lalu pemerntah menetapkan suatu kebijakan di dalam kampus sehingga mahasiswa tidak dapat melakukan pewrlawanan kepada pembuat kebijakan.
Setelah gerakan 1978 tidak ada lagi gerakan besar yang dilakukan oleh mahasiswa selama beberapa tahaun karena sudah di terapkan
NKK (Normalisasi Kehidupan Kampus)     : SK No.0156/U/1978
BKK (Badan Koordinasi Kemahasiswaan) : SK menteri P&K No.037/U/1979
Oleh pemerintah secara paksa NKK diterapkan supaya mahasiswa bisa fokus untuk melaksanakan akademik, supay tidak terlibat di dalam politk supaya tidak memebahayakan posisi rezim.
Bkk di terapkan untuk membentuk organisasi kampus supay mahasiswa hanya fokus untuk menyelenggarakan organ tersebut tanpa menganalisis kebijakan yang akan di keluarkan oleh pemerintahan.
Banyak organisasi yakni ;
  • SMF     : senat mahasiswa fakultas
  • HMJ     : Himpunan Mahasiswa Jurusan
  • UKK     : Unit Kegeiatan Khusus
  • UKM    : Unit Kegiatan Mahasiswa
  • BEM    : Badan Eksekutif Mahasiswa

Ini sekilas gambaran tentang perkembangan seluk-beluk Kampus serta aturan yang dibuat didamnya, akan tetapi semua perubahan tidak akan terwujud selama kita tidak mencari akan asal muasal dan titik temu dari semua ini, kepada tuhan kita berdoa dan perubahan akan selalu diperjuangkan.
            Setiap generasi pasti akan menorehkan sejarahnya sendiri, dalam setiap fase lembaran arsip-arsip yang menjadi acuan generasi mendatang dalam merancang strategi yang meramaikan bursa calon pemimpin dimasa mendatang. Begitu juga yang terjadi dengan aktivis mahasiswa sekarang ini. mereka suatu saat, tercatat dalam tulisan sejarawan negeri dimasa sekarang atau mendatang, yang mengabadikan pergolakang social panjang. Hal itu wajar, karena selain menjadi aktor perubahan pada masanya, mereka juga menjadi aktor dalam lembaran sejarah yang dilegendakan dan tak sekedar diperbincangkan. Mahasiswa menyadari mereka adalah “lapisan paling maju”, dan dengan demikian menentukan watak kepemimpinan bangsa dimasa depan yang bertanggung jawab terhadap transformasi social dalam skala besar.
            Langkah yang diambil mahasiswa dalam membangun bangsa memang sangat kompleks, kadang terjadi benturan diantara mereka, namun benturan itu sebenarnya merupakan bagian dari proses menuju sebuah pemerintahan yang ideal, yang sampai saat ini masih menjadi penyegar mulut setiap warga negara.
Ketika berbicara tentang mahasiswa, pasti kita akan menemukan satu kenyataan sejarah yang memuat dinamikan perlawanan yang berdarah-darah. Mahasiswa adalah sosok yang cukup misterius dan susah diajak kompropmi apalagi ketika berhadapan dengan kekuasaan yang tiran, otoriter, dan eksploitatif. Nyawa mereka kadang-kadang menjadi garansi untuk sebuah keadilan. mahasiswa adalah kaum “elit muda” (meminjam istilah Hariman Siregar) yang dalam setiap derap langkah pembangunan terus setia memainkan kontrol-kontrol progresif, yang cukup memiliki dampak yang signifikan dalam akselerasi demokratisasi.
Mahasiswa, lagi-lagi adalah kelas social tersendiri yang senantiasa aktif dan memiliki radikalisasi gerakan yang cukup diperhitungkan dalam kancah dan panggung perpolitikan bangsa. Takdir hidup dan realitas subyektif mereka selalu saja dipenuhi dengan refeksi. Aksi dan proyeksi yang programatik serta berbasis pada kenyataan social, kenyataan inilah yang membuat kelompok muda seperti mahasiswa sering dan bahkan selalu dihadapkan pada situasi kekuasaan yang cukup “menggoda”. 
Pasca jatuhnya soeharto, mahasiswa dengan berbekal spanduk dan megaphone lebih “menggila” dengan radikalisasinya sampai-sampai dalam setiap agenda aksi-nya harus berhadapan dengan kelompok represif negara alias moncong senjata. Reformasi menjadi isu sentral dalam setiap gerakan yang dilakukan. dengan gerakannya yang lebih progresif dalam menggusung isu-isu seperti; demokrasi, penolakan terhadap kenaikan harga, penolakan privatisasi sector publik, dan isu-isu yang populis lainnya. Hal itu adalah merupakan perwujudan nilai dan paradigma kritis yang diyakini oleh mahasiswa.   
            Sebagai kelas yang selalu nampak dalam setiap perubahan, mahasiswa bukanlah manusia yang tidak luput dari problematika, baik yang datang secara internal maupun eksternal. Artinya gerakan mahasiswa adalah sebuah gejala demokrasi yang terus melangkah yang kadang-kadang melewati jalan yang bagus, tetapi sering juga harus melewati lorong-lorong yang berbecek, ada yang bisa melewati-nya, tapi ada juga yang harus terjatuh.
 Selama Tahun 2004 sampai sekarang terjadi peningkatan volume gerakan mahasiswa dalam rangka membuktikan perlawanan yang nyata dan terorganisir. Tidak itu saja arus besar hiruk-pikuk perselingkuhan sebagian aktivis dengan kepentingan politik praktis, yang ternyata mampu mendekonsolidir moralitas sebagian besar mahasiswa, tidak menyurutkan mahasiswa yang lain, dalam menaklukkan “monster kampus”  maupun penjahat yang membugkus “idealisme” dengan pragmatisme. Buktinya masih ada mereka yang terus mengalami radikalisasi gerakan yang cukup progresif walaupun harus berlapar-lapar ria.
            Berbarengan dengan proses pematangan kesadaran politik dan militansi melalui aksi-aksi langsung ini, ternyata masih bentuk gerakan yang parsial, ketika dihadapkan pada persoalan keberlanjutan gerakan dan militansi perjuangan. karena ada beberapa kelompok melihat mutlaknya untuk segera bergabung dengan kelompok – kelompok lain di rakyat, terutama kelompok buruh, petani dan nelayan dan kaum miskin kota. Karena sesungguhnya perubahan social harus didorong dari kelas yang paling tertindas, bukan dari mahasiswa. Perjuangan kaum buruh misalnya, tentang kenaikan UMR akan berhasil kalu yang melakukan perjuangan itu adalah kaum buruh, sama halnya juga dengan petani dan nelayan.
Masalah lain seperti, pematangan diri secara organisasional, kaderisasi, Hubungan antar kelompok mahasiswa, prioritas isu-isu yang mau diangkat, juga menuntut untuk secepatnya diselesaikan. Belum lagi menghadapi kelompok-kelompok politis tertentu yang terus menggoda dengan berbagai tawaran yang tidal jarang justru menghancurkan independensi gerakan. Terakhir tentu saja masalah kehadiran diruang kuliah, ujian semester, SKS minimal yang harus dipenuhi, tugas-tugas kuliah, dan masalah akademis lain, adalah hal yang terus memacetkan gerakan.
Komersialisasi Perguruan Tinggi yang membuat biaya atau beban yang harus ditanggung oleh Mahasiswa melambung tinggi, serta pembatasan waktu kuliah. adalah taktik jitu melumpuhkan gerakan mahasiswa. Komersialisasi membuat Perguruan Tinggi menjadi elitis yang hanya mampu diakses oleh mereka yang kaya. Seleksi kelas yang dilakukan sejak dini telah membuat kampus menjadi sarang kaum borjuis yang menjalankan pendidikan dengan mekanisme ekonomistik . hukum ekonomi yang dijalankan di dalam dunia perguruan tinggi diikuti oleh pembukaan beberapa bidang studi yang menekankan pada keahlian dengan jangka waktu yang singkat. Praktek semacam ini membuat gerakan mahasiswa ditindih oleh masalah mendasar, yakni mulai mengalami krisis kader, kebanyakan kader yang ada ditelan dalam siklus pendidikan yang makin dipepet oleh waktu.
Krisis kader ini berdampak pada bagaimana mekanisme organisasi di dalam yang tidak bisa mencengkram kedisiplinan para anggotanya. Sudah jamak jika muncul keluhan bahwa, beberapa petinggi gerakan mahasiswa mengadakan negosiasi dengan elit politik tanpa diketahui oleh kader yang ada di basis. Negosiasi yang semata-mata untuk memenuhi nafsu kekuasaan para pengurusnya ketimbang berpihak pada ideology dan basis gerakan. Itu sebabnya banyak alumni gerakan mahasiswa yang sibuk untuk menjadi tim sukses (TS) pada perhelatan demokrasi seperti PILKADA yang dulu mereka kritik habis-habisan. Belum lagi secara internal mahasiswa dikampus-kampus masih disibukkan dengan konflik antar mahasiswa, yang mungkin hanya karena persoalan jabatan pada Lembaga kemahasiswaa, seperti perlombaan menduduki jabatan di BEM, UKM dan HMJ. Yang terakhir semuanya menyebabkan pecahnya integritas serta hancurnya basis gerakan.
Efek dari situasi ini adalah lumpuhnya budaya intelektual yang sebenarnya jadi “nyawa”  gerakan. Hal ini tercermin dari makin tidak jelasnya ikatan “basis ideology”  yang mengikat anggota gerakan mahasiswa sendiri. Energi intelektual yang pupus kian membuat gerakan ini buta pada realitas dan kian jauh aksinya dari tuntutan pokok rakyat. tabiat rakus akan kursi kekuasaan telah membuat gerakan mahasiswa jadi kian lamban dalam mengambil respon 
Dari paparan di atas, terdapat hal menggelisahkan dalam perkembangan gerakan mahasiswa. Dalam konteks eksternal, gelontoran preblematik social politik mengkondisikan gerakan mahasiswa kedalam posisi yang nyaris mengalami disorientasi. Tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Kesulitan melakukan kontekstualisasi dalam konstalasi politik nasional yang begitu cepat mengalami pergeseran. Banyak isu-isu kritis yang gagal direspon. Pada akhirnya seringkali terjebak dengan isu-isu mikroskopis   seperti desakan terhadap KPU.

Dalam konteks internal, gerakan mahasiswa dihadapkan oleh fenomena dekonsolidasi organisasi yang membuatnya begitu sulit mematerialkan agenda-agenda gerakan. Cairnya organisasi, problem kaderisasi, dan lemahnya konsolidasi gerakan, turut melemahkan daya dorong. Kondisi tersebut mengalami proses percepatan hingga terkapar berguling-guling kehilangan basis moralitas karena berselingkuh dengan politik kekuasaan. Padahal kenyataan bangsa masih berada pada keterpurukan yang luar biasa, karena belum ada pergeseran yang signifikan dalam hal keadilan dan kemakmuran.   Dilihat dari sudut manapun dan tempat apapun, itulah hal yang menggelisahkan.

Apa yang sesungguhnya membuat mahasiswa dengan gerakannya begitu cepat tergoda dengan rayuan politik. Untuk menjawab pertanyaan ini alangkah baiknya penulis mengutip artikel yang ditulis oleh Abdurrahman Fauzi dalam sebuah majalah nasional. Menurut Fauzi ada beberapa hal mendasar yang menyebabkan gerakan mahasiswa selalu patah dan putus ditengah jalan yaitu;

Pertama, demoralisasi atau deidelogisasi gerakan mahasiswa sehingga kehilangan pijakan ideologis. Hal ini terrefleksikan dari aksi-aksi mahasiswa yang susah untuk “dibaca” karakter ideologinya. Akar dari ini adalah kaderisasi di kalangan gerakan mahasiswa yang sudah jauh dari proses pergulatan panjang dan berdarah-darah. Kedua, konsolidasi kekuatan global dan nasional yang anti demokrasi yang begitu cepat sehingga sulit diimbangi oleh gerakan mahasiswa. Ketiga, watak gerakan mahasiswa yang cenderung cair dan basis masa yang secara sosiologis sulit diolah menjadi basis gerakan. Naiknya biaya pendidikan secara perlahan menggeser basis sosiologis mahasiswa dikebanyakan Universitas yang kebanyakan kelas menengah. Sosiologi pergerakan menunjukkan basis perlawanan lebih mudah dan mungkin tumbuh dalam mahasiswa kelas menengah kebawah. Secara perlahan kita menyaksikan pergeseran basis social kampus, dan pada saat yang sama melemparkan rakyat pinggiran untuk kesekian kalinya dalam jurang keterpurukannya.

Keempat, pragmatisme sebagian aktivis, baik yang terselubung maupun terang-terangan, diam-diam atau ribut-ribut, yang ditandai bercumbu ria dengan kekuasaan, baik dalam bentuk TS, mengancungkan tangan meminta selembar kertas, terjun langsung jadi politisi, sampai menjadi makelar demo. Kondisi ini menyebabkan gejala demoralisasi sehingga kehilangan basis moralitas di satu sisi, dan keterjebakan dalam lingkaran politik di sisi lain, yang membatasi secara structural dinamika gerakan. 

Ini adalah kenyataan gerakan mahasiswa, revolusi yang diteriakkan hanya menjadi penghias bibir, idealisme sebagai asset satu-satunya malah sudah tergadaikan, tidak ada lagi kebanggaan bagi mahasiswa, kalau kondisi ini terus-terusan seperti ini maka jangan pernah berharap perubahan akan menjadi kenyataan. Mahasiswa yang diharapkan menjadi bagian dari solusi, malah menjadi bagian dari masalah. Teriakannya-pun tidak lantang lagi. 

Wallahu A’lam

Salam Berfikir dan Bertindak Cerdas_!

Wassalamu allaikum Wr. Wb.




REFLEKSI TIGA TAHUN PERJALANANKU

Gorontalo, 18 Oktober 2011
REFLEKSI TIGA TAHUN PERJALANANKU
(Jatuh tersungkur atau Lapuk Dalam Kevakuman_??)
Oleh:
Supartomo Syarief

            Tidak terasa KPMIPM telah berdiri dan mulai berjalan selama tiga tahun dan mengikuti pertumbuhan usia dan perkembangan kadernya meski dengan berbagai cara, baik dengan berlari, berjalan hingga dengan cara merangkak sekali pun, terkadang pula ia harus bangkit dari jatuh dan perihnya untuk melanjutkan perjalanan kehidupannya yang penuh dengan visi besar yang tentunya berat meski tidak jarang ia harus jatuh kembali dengan rasa sakit yang sama bahkan lebih parah.
            Dengan usianya sekarang  yang baru menginjak pubertas (masa remaja) tentunya KPMIPM belum cukup banyak memakan “garamkeorganisasian yang membuatnya harus mampu bertahan menghadapi gelombang dan badai masalah yang mau-tidak mau harus siap untuk dihadapi dengan cara apapun, karena sejatinya perkembangan baik secara mentalitas maupun intelektual keorganisasian adalah ketika KPMIPM mampu melewati masalah-masalah dengan adem, ayem, tentrem dan apik.
            Sejak tanggal 18 Oktober 2008 dimana KPMIPM pertama kali mengikrarkan diri sebagai organisasi yang berdaulat maka sejak tanggal itu pula secara sadar atau pun tidak KPMIPM juga telah menyatakan diri untuk berperang melawan masalah diri dan kadernya pada khususnya serta melawan masalah sosial kemasyarakatan pada umunya, karena itulah alasan ia lahir.
            Meski dengan berbagai cara dan upaya untuk menekan setiap persoalan dan mencoba mengambil langkah preventif  namun masalah yang datang bak gulungan gelombang yang tak henti-henti menampar dan menghampar pinggiran pantai KPMIPM. Dengan kondisi seperti ini tidak jarang kadernya pun yang dulunya menyatakan diri sebagai kader loyal, militan dan siap melakukan progresivitas untuk si-Lebah Kuning pun seakan melepas tangan dan mundur dengan langkah malu-malu hingga akhirnya hilang di telan masa.
            Ada yang mundur dengan cara diam-diam, ada pula yang membuat merah kuping dengan melakukan tindakan penghianatan dengan mengatasnamakan kekecewaan yang sampai saat ini juga belum jelas masalahnya; atau mungkin just make a reason !
            Dengan masalah yang bertubi-tubi seharusnya kadernya juga turut “menggelisahkan” diri namun ironis-nya mereka meninggalkan “ibu” tanpa ayah dengan cara mereka sendiri. Hingga tidak berlebihan ketika Dewan Pembina Organisasi KPMIPM periode 2010-2011 Chandra Setiawan menyatakan kekecewaannya dalam Rapat Pengurus dengan menyamakan keadaan organisasi dengan keadaan NKRI tahun 1998. Dimana saat itu terjadi krisis di berbagai bidang kehidupan namun tanpa rasa empati Provinsi Timor Timur (Timor Leste sekarang) melakukan pemisahan diri dari kedaulatan NKRI.
            Meski berbeda dalam perspektif dan skala kewilayahan namun pada intinya masalah yang dihadapi tidak jauh berbeda yakni 1)terjadinya krisis ekonomi; dimana kader lain sementara menggelisahkan diri memikirkan solusi atas masalah perpanjangan sekretariat dan angkatan muda yang masih memerlukan pembinaan dari pendahulunya namun di sisi lain 2)pihak-pihak yang “kecewa” (atau juga mengecewakan diri sendiri) mengambil tindakan mengecewakan dengan berniat memisahkan diri dari KPMIPM sebagai organisasi yang independent  dan mandiri.
            Dengan berlandaskan emosi yang tidak terkontrol dan juga sebenarnya tidak bertahan lama atas pendirian mereka, beberapa oknum tersebut mencoba menciptakan dis-integration di tingkatan mahasiswa Parigi Moutong pada umumnya dengan menciptakan issue wilayah kecamatan sebagai medianya. Namun dengan tingkat kesadaran persaudaraan dan kebersamaan (integration), kader-kader KPMIPM tidak terpancing dan silau dengan emosi sesaat meski ada beberapa yang terjebak oleh “kalimat sesat” para provokator yang mencoba menjadikan angkatan muda Parimo sebagai korban keeogoisan mental maraju mereka.
            Dengan bertambahnya usia organisasi ini seharusnya para kadernya duduk bersama berupaya mengumpulkan bekal intelektual, mental dan moral guna menyiapkan diri dalam menghadapi “percaturan” di daerah yang semakin semrawut (chaose) termasuk di dalamnya memikirkan agenda organisasi yang bermuara pada pencapaian mutu kader yang handal sebelum nantinya melangkah maju pada misi yang lebih luas hingga pencapaian visi benar-benar terwujud. Tapi sayang, jangankan berpikir mengenai cara dan strategi pendampingan masalah-masalah sosial yang ada di daerah atau bahkan masalah nasional, untuk masalah internal organisasi saja kita masih berjalan di tempat seakan masalah KPMIPM adalah berputar pada masalah pengurusnya yang kurang kinerja dan kadernya yang keras kepala.
            Mungkin sudah waktunya kita menyusun langkah yang sistematis dalam rangka menjalankan misi dan mewujudkan visi organisasi. Mungkin kita terlalu terbiasa merayakan/merefleksi peristiwa-peristiwa besar yang tentunya itu tidaklah salah, namun jika terlalu nyaman dengan hal demikian lantas melupakan tugas dan misi kita untuk menciptakan moment  dalam hal ini perubahan (changes) maka hal demikian juga tidaklah terlalu tepat. Yang kita perlukan sekarang adalah menetapkan misi yang tidak hanya sekedar tuntutan proker (program kerja) tetapi semakin bersinergi dengan visi sebagai tujuan umum organisasi. Jika hal tersebut dapat dicanangkan maka kreativitas pengurus-pengurus bidang pun akan terasah dengan meciptakan proker yang menuntut kerja keras panitianya yang akhirnya bukan hanya melahirkan peserta yang berbobot tapi juga dapat memberi kepuasan mental dan jiwa kepada panitianya.
            Hal ini mungkin cukup sederhana dan enteng  tapi sesuatu yang terukur dapat menciptakan sesuatu yang lebih besar dibanding ukuran dirinya (Raushanfikr dan Mustadh’afin).
            Meski dengan berbagai masalah yang membidik dari berbagai arah bak anak panah di medan perang, namun tanpa terasa dan disadari ternyata organisasi ini hanya sekedar sebagai “pelarian” yang entah sampai kapan dia menunggu kader sejati yang diimpikannya dia tetap memaksakan diri untuk melangkah meski dengan tersungkur dan ter-engah-engah karena vakum berarti mati dan membunuh generasi dengan suka rela.

Selamat Ulang Tahun KPMIPM-ku,
Meski berjalan dan tersungkur, demi-mu
Aku mau_!
Mari kepakkan sayap bersama Lebah Kuning Parimo_
Salam Berpikir dan Bertindak Cerdas_!
Salam Hormat
Supartomo syarief
Mustadh’afin - Raushanfikr

LAGU PERJUANGAN_

PUISI MELAWAN KEBAJIKAN
(Pesan Sang Ibu)

Tatkala aku menyarungkan pedang dan bersimpuh diatas pangkuanya tertumpah rasa kerinduanku pada sang ibu tangannya yang halus membelai kepalaku tergetarlah seluruh jiwa ragaku, musnalah seluruh api semangat juangku namun sang ibu berkata
Anakku sayang apabila kakimu sudah melagkah ditengah padang tancapkanlah kakimu dalam-dalam dan tetaplah terus bergumam sabab gumam adalah mantra dari dewa-dewa gumam mengandung ribuan makna apabila gumam sudah menyatu dengan jiwa raga maka gumam akan berubah menjadi teriakan-teriakan yang nantinya akan berubah menjadi gelombang salju yang besar yang nantinya akan mampu merobohkan istana yang penuh kepalsuan gedung-gedung yang dihuni kaum munafk
Tatanan negeri ini sudah hancur anaku dihancurkan oleh sang penguasa negeri ini mereka hanya bisa bersolek di depan kaca tapi membiarkan punggungnya penuh noda dan penuh lendir hitam yang baunya kemana-mana mereka selalu menyemprot kemaluannya dengan farfum luar negeri diluar berbau wangi didalam penuh dengan bakteri dan hebatnya sang penguasa negeri ini pandai bermain akrobat tubuhnya mampu dilibati pot yang akhirnya pantat dan kemaluanya sendiri mampu dijilat-jilat
Anaku apabila pedang sudah kau cabut janganlah bicara soal menang dan kalah sebab menang dan kalah hanyalah mimpi-mimpi, mimpi-mmpi muncul dari sebuah keinginan, keinginan hanyalah sebuah khayalan yang hanya akan melahirkan harta dan kekuasaan, harta dan kekusaan hanyalah balon-balon sabun yang terbang di udara,
Anaku asalah pedang ajaklah mereka bertarung  ditengah padang lalu tusukan pedangmu ditengah-tengah selangkangan mereka biarkan darah tertumpah dinegeri ini satukan rumahmu menjadi REVOLUSI

Sedikit Mengenai Rasa:

Gorontalo, 24 April 2010
“ RASA = FUNGSI SINUS . . ? “
Sekedar merefleksi kembali mengenai apa dan bagaimana rasa itu dalam artian luas. Rasa, saya ingin membawa Anda pada masa remaja Anda, masa dimana Anda, saya, dan semua orang merasakan indahnya hidup di dunia, , , katanya sich . . !
Sedikit saja kita berfikir mengenai rasa dan perasaan maka kita akan terbawa pada rasa-rasa lain yang biasanya kita rasakan. Biasanya rsa itu muncul sebagai akibat dari upaya yang dilakukandalam rangka pencapaian sebuah rsa yang  lain. Jika saya menganalogikan seperti itu maka, contoh kasusnya adalah saat kita makan nasi goreng pedas. Rasa itu muncul sebagai akibat dari upaya kita untuk memenuhi kesempurnaan dari sebuah rasa yang namanya nasi goreng. Keinginan itu membuat kita melakukan upaya menambahkan rasa pedas dalam nasi goreng tersebut. Mungkin analoghi sederhana ini bisa mewakili rasa-rasa yang lain.
Apa Itu Rasa . . ?
Mungkin itu pertanyaan yang harusnya dibahasa dari awal tulisan ini. Beberapa menit termenung dan berfikir, saya menyimpulkan secara sepihak bahwa rasa itu merupakan akibat dari apa yang akan,sedang, dan telah kita lakukan, (urutan waktunya kacau yach . . ?). Hampir semua yang kita lakukan menimbulkan akibat pada rasa, rasa seduh saat ditinggal seseorang dalam jangka waktu yang panjang, rasa senang dan bangga saat berhasil memenangkan sebuah perlombaan/pertandingan, atau rasa kecewa saat kalah dalam sebuah kompetisi. Sekarang, bagaimana saat kita bermimpi.? Apa yang kita rasakan saat itu. .? mungkin butuh waktu untuk saya pribadi untuk merenungi masalah ini, dan aka saya jawab meskipun kita berbeda.
Terlepas dari semua yang meng-cover-i rasa ini, saya berfikir kenapa sebagian orang gila-gila dan bahkan sampai mati-matian membela dan mempertahankan rasa yang mereka miliki. ? Apakah rasa/perasaan itu adalah hal yang mutlak dan absolut, yang begitu fundamentalis untuk dibela sampai titika darah penghabisan. ? (sok heroik yach . ?)
  Dari sekian banyak rasa yang pernah saya rasakan dan telah saya alokasikan sedikit waktu  untuk memikirkan rasa-rasa itu, ternyata (inipun kalo nggak salah) rasa itu bisa berubah tidak beraturan dengan rentangan waktu yang tidak tentu, meskipun terkadang rasa itu bisa saja kembali muncul sebagai akibat dari respon terhadap suatu hal yang memiliki hubungan dengan rasa/perasaan itu. Intinya, rasa bukanlah hal yang selalu mutlak untuk dibela gila-gilaan atau bakan mati-matian kecuali bila rasa itu berkaitan dengan suatu ha yang benar-benar principle, dan/atau bahkan mengenai penindasan kontinyu bagaimana pun bentuknya.
Taqw, Iman, Cinta, Benci, Sakit, Lapar, dll = Rasa/Perasaan = Fungsi Sinus = . . ?
Fungsi Sinus menggambarkan sebuah gelombang yang naik-turun dari garis koordinat, melambangkan sebuah hal yang dinamis dan bergerak tidak tetap. Tidak tetap di sini tidak berlaku pada hal-hal yang telah disusun secara sisitematis, terkoordinir dan structural serta sistemik.
Jika rasa rindu pada seseorang atau suasana bisa berkurang dan hilang dalam sebuah perjalanan waktu, maka apa bedanya dengan fungsi sinus. . ?
Ini menandakan bahwa rasa itu perlu diberikan alokasi waktu beproses dan difikirkan sebelum kita gila-gilaan dan mati-matian untuk membelanya, (tapi masing-masing Anda punya hak kok . . .). Ingat kawan, semua bisa berubah dan terjadi dalam setiap perubahan waktu.
Terus berfikir dan mengkritisi rasa/perasaan dan semua yang akan kita lakukan sehingga akan membuat dan membawa kita dalam posisi yang lebih mengerti dan mengetahui rasa yang hakiki dan tentunya pantas untuk dibela mati-matian dalam keadaan hidup.
Salam Perjuangan . . !
Faidza Adzamta Fatawakqalallah,
Wallahul Mu’afiq Illa Aqwamithariq,
Wassalamu Alaikum Wr, Wb.

                                                                                      Thomo Al-Amri