Selasa, 13 Maret 2012
Selasa, 07 Februari 2012
KETIKA IDEALISME TERJUAL TANPA HARGA
19 Desember 2011
“…tidakkah kau
sadari bahwa tanpa menjualnya pun idealismemu akan terjual begitu murah, bahkan
tanpa harga ?
Dan hal inilah
yang akan terbukti, sebagian memusnahkan keseluruhan…”
Begitu banyak dari kaum
muda khususnya mahasiswa yang menyatakan diri sebagai insan beridealis dan
begitu gigih melawan kebijakan penguasa (pemerintah, read) dan mengatasnamakan
dirinya sebagai komunitas pembela kaum yang termarjinalkan. Hal itu tidak dapat
kita salahkan karena memang (sebagian) nawaitu
mereka adalah dengan tujuan itu. Namun terkadang yang menjadi masalah
adalah (sebagaian dari) mereka seakan menjadikan niatan suci itu sebagai moment memperlihatkan eksistensi mereka
secara riyah yang tentunya telah
menyimpang dari nilai-nilai dasar perjuangan sebagai realisasi niatan suci.
Bukan tanpa sebab fenomena
ini kerap kita temukan di berbagai komunitas aktivis mahasiswa sebagai actor yang jika kita lihat perjalanan
bangsa ini tidak akan lepas dari campur tangan mereka, meski sebenarnya tidak
semua dari mereka ber-riyah dengan
kebanggan atas pujian-pujian dari simpatisan mereka.
Hal ini (ke-riyah-an) bisa saja dilatarbelakangi
oleh politik masa depan yang mereka (sekali lagi hanya actor/oknum tertentu)
gencarkan sehingga mereka seakan menjadi ancaman bagi pemerintahan tertentu
atau bahkan akan menjadi penilaian khusus bagi para calon pemimpin di zamannya
sehingga saat “pensiun” dari teriakan dan idealisme-nya akan dengan muda ia
mendapatkan posisi yang sebagian orang begitu sulit diraih.
Penyelewengan terhadap
nilai-nilai dasar pergerakan tentu saja membuahkan dampak yang cukup negative
terhadap penilaian masyarkat kepada aktivis mahasiswa secara umum. Yang
ditakutkan apabila penilaian tersebut mencapai titik klimaks yakni saat
masyarakat mengalami krisis kepercayaan tidak hanya kepada pemerintah sebagai
regulator dan penentu kebijakan tapi juga kepada kaum murni/mahasiswa sebagai agent of social control dalam kehidupan
bermasyarakat.
Jika masyarakat telah masuk dalam keadaan ini maka pesimistis dan
keputus-asaan juga akan melanda masyarakat yang akan menimbulkan sifat apatis
terhadap keadaan karena dua actor yang mereka andalkan telah menyimpang dan
mereka akan berlari sendiri ibarat anak ayam yang ditinggalkan induknya dan
kehilangan komunitas yang seharusnya menjadi figure kebanggan dalam menentukan
arah dan tujuan kahidupan.
Bukan masalah siapa yang
melakukan hal itu, tapi lebih pada masalah mengapa hal itu terjadi. Karena
dalam nilai dasar perjuangan pun telah terdefinisi dengan jelas nawaitu perjuangan ini, tidak lain
karena alasan realisasi (pengabdian) terhadap hubungan dengan Sang Pencipta,
implementasi (pembelaan/keberpihakan) terhadap hubungan dengan masyarakt dan
keserasian (kepedulian) atas hubungan dengan alam sebagai objek eksploitasi
manusia yang terkadang tanpa pertimbangan.
Alasan pertama (Hablum Minallah) secara jelas
mengisyaratkan bahwa manusia harus mampu memperlihatkan efek dari kesempurnaan
atas kejadian (Ahsanittaqwim)
sehingga manusia harus mampu
memanfaatkan totalitas kesemprnaan tersebut baik kesempurnaan bentuk, pikiran,
kesadaran moral.
Alasan kedua (Hablum Minannas) ini adalah turunan
dari alasan pertama bahwa manusia memiliki kesadaran moral sehingga selain
mampu berpikir dan membedakan antara yang haq dengan yang bathil maka secara
moral dan moril manusia memiliki kepedulian dan tnggung jawab terhadap
sesamanya.
Alasan ketiga (Hablum minal ’Alam) adalah manifestasi
dari dua alasan sebelumnya. Selain itu manusia secara kodrati telah diberikan
amanah untuk menjadi khalifah fil ardi yang tentu saja dengan amanah berat itu
manusia harus mampu bertindak secara agresif terhadap persoalan-persoalan yang
tidak sesuai dengan petunjuk-Nya.
Tiga hal inilah
yang menjadi ruh dari
perjuangan-perjuangan mahasiswa pada umumnya yang meski tidak jarang yang
menggunakannya untuk sekedar menggadaikan kekuatan besar ”idealisme” sebagai
konsumsi pribadi.
Yang bersalah tetaplah salah, dan mengutuk pun
tak akan menjadikan mereka benar, pun tak akan menjadikan kita mulia karena
kesalahan telah terjadi di masa lampau. Namun jalan dan pintu perbaikan tetap
memilik stock yang berlimpah. Hanya
dengan saling mengingatkan dan berdoa akan sedikit mampu menghapus dosa-dosa riyah itu (dan mungkin juga ”ini”).
Wallahul ’Alam Bisshawab_
Wallahul Muafieq Illa Aqwamieth Tharieq !
Langganan:
Komentar (Atom)



